Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Al-KisahRagam Berita

Al – Kisah : Derita Togog Hidup di Negeri Maling

×

Al – Kisah : Derita Togog Hidup di Negeri Maling

Sebarkan artikel ini

BANDUNG | Forwacinews.com –

Deskripsi :  Al-kisah ini dinarasikan oleh sebut saja “Budak Angon” nama samaran dari tokoh penulis yang menjadi narasumber dan dikenal redaksi, yang kali ini melalui alkisahnya semata untuk mengingatkan dan mudah-mudahan menjadi bahan introspeksi bagi semua. Edisi Senin (27/5/2024).

Al-Kisah Dua Sanghyang yang ditugasi turun ke bumi mendampingi perumpamaan buruk dan jahat di Bumi.

Sanghyang Ismaya (Semar) hidup di tengan 5 (Lima) Pandawa yang arif bijaksana, yang memimpin Negara Amarta dan Sanghyang Antaga (Togog) Yang harus hidup ditengah Kurawa Yang prilakunya buruk di Negara Astina.

Tugas Semar sangat ringan, selain yang dikawal sudah berperilaku baik jumlahnya lebih sedikit hanya lima kesatria. Sementara Togog tugasnya jauh lebih berat karena yang didampingi 100 Kurawa dengan sifat buruk yang kompak (sistem kolektif).

Adalah sebuah realita di tengah penyelenggaraan pemerintahan dan politik di negeri ini.

Ada banyak orang yang pada dirinya memiliki pengetahuan luas, dedikasi tinggi dan gagasan yang maju.

Pada dirinya tumbuh kesadaran untuk saling mengingatkan dan memberikan pandangan kebaikan pada penguasa dan para kesatria lainnya, tapi selalu gagal karena yg dinasihati lebih cenderung melakukan kebaikan semu (keburukan) daripada kebaikan hakiki.

Apalagi semakin berat, manakala yang diingatkan bertahan teguh pada keyakinan politik yang dianutnya, berjuang mencari peluang terbaik bagi kepentingan diri, keluarga dan kroninya diatas kepentingan masyarakat bangsa dan negara.

Semar dipersepsi tokoh panutan, Togog dipersepsi tokoh jahat yang membiarkan kemunkaran berlangsung di hadapannya.

Andai keyakinan sang Togog tidak kuat, maka dia rawan tergoda larut dengan sistem yang buruk itu dia terjebak ikut dan mengiyakan perilaku buruk itu. 

Atau konsisten menyuarakan kebenaran meski oleh tokoh oportunis seperti Dorna dan Sangkuni sikapnya diolah jadi isu pembangkangan pada sang Raja.

Dilema Sanghyang Togog :

DITERIMA KALANGAN MEMBENARKAN KEMUNKARAN, ATAU DIKUCILKAN KARENA KONSISTEN SUARAKAN KEBENARAN.

Itulah kenyataan yang seringkali terjadi di negeri ini : NU KAWASA TEU NGARTI, NU NGARTI TEU BOGA KAWASA.

Author : “Budak Angon
Editor : Yudika

Example 300250

Tinggalkan Balasan