Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
HukumMediaOpini AnalitikPolitik

Yudika Adjie: Wartawan Bukanlah Buzzer, Tapi Verifikator Fakta

×

Yudika Adjie: Wartawan Bukanlah Buzzer, Tapi Verifikator Fakta

Sebarkan artikel ini

BANDUNG. ForwaciNews – Di tengah derasnya arus informasi digital, profesi wartawan di Indonesia sering kali disamakan dengan buzzer. Padahal, secara fungsi, etika, dan tanggung jawab, keduanya berada di kutub yang berbeda.

“Wartawan itu bukanlah Buzzer, tapi Insan Kontrol Sosial,” tegas Yudika Adjie, Sekretaris Jenderal Formasi Wartawan Cimaung Indonesia (Forwaci) kepada Tim Media FNC, Jum’at 7/8/2026.

Lebih lanjut, Yudika mengingatkan bahwa di era digital ini peran wartawan sebagai verifikator fakta menjadi semakin krusial.

1. Perbedaan Orientasi
Buzzer lahir dari logika pasar dan pesanan. Tugasnya satu: menggiring opini sesuai kepentingan pemberi dana.
Wartawan lahir dari logika publik. Kompasnya adalah fakta, verifikasi, dan kode etik jurnalistik.
Buzzer dibayar untuk membela. Wartawan bekerja karena bertanggung jawab kepada kebenaran.

2. Fungsi Konstitusional Pers
Sebagaimana diamanatkan Pasal 3 ayat (1) UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.
Dari keempat fungsi itu, fungsi kontrol sosial adalah yang paling krusial dalam demokrasi. Tanpa kontrol, kekuasaan akan cenderung korup.

3. Bahaya Penyamaan Makna
Ketika masyarakat mulai menyamakan wartawan dengan buzzer, maka kepercayaan publik terhadap media akan runtuh.
Akibatnya? Hoaks dianggap berita. Kritik dianggap pesanan. Fakta dianggap narasi.

4. Tantangan Zaman
Teknologi memang mengubah cara kerja wartawan. Kini ada “pena digital”. Kecepatan dituntut, tapi akurasi tidak boleh dikorbankan.
Justru di era banjir informasi ini, peran wartawan sebagai kurator dan verifikator fakta menjadi semakin krusial. Karena kepercayaan publik adalah satu-satunya modal kita.

Penutup
Sebagai wartawan di organisasi profesi, wajib berkomitmen menjaga marwah wartawan. Wartawan tidak hidup dari sorak-sorai kekuasaan, dan tidak mati karena kritikan. Wartawan hidup dari kepercayaan publik. Bukan buzzer. Bukan corong. Tapi cermin. (Tim FNC).

Sumber: Yudika Adjie
Sekjen Formasi Wartawan Cimaung Indonesia (Forwaci)

Example 300250

Tinggalkan Balasan