Penulis: Yudika Adjie Tokoh Jurnalis Pemerhati / Sekjen Formasi Wartawan Cimaung Indonesia (FORWACI). Minggu, 9/8/2026
BANDUNG. ForwaciNews – Di era digital hari ini, jempol kita punya kekuatan yang dulu hanya dimiliki redaksi besar dan mesin cetak. Satu klik share bisa menjangkau ribuan orang dalam hitungan detik. Satu komentar bisa menaikkan nama, atau meruntuhkan martabat seseorang.
Itulah kenapa ada pepatah baru: “Jarimu Harimaumu”.
Dulu harimau hanya keluar dari kandang saat lapar. Sekarang, harimau itu keluar setiap kali kita emosi, saat jari kita bergerak lebih cepat dari nalar. Di kolom komentar, di grup WhatsApp, di timeline media sosial. Cepat, liar, dan sering tanpa arah.
Kecepatan Tanpa Kompas
Kecepatan informasi hari ini adalah berkah sekaligus ujian. Kita bisa tahu bencana di seberang pulau dalam 5 menit. Tapi kita juga bisa ikut menyebar fitnah dalam waktu yang sama.
Analisis Jurnalis selaku pemerhati menemukan 3 pola yang sering terjadi:
- Reaktif, bukan Reflektif: Kita lebih dulu marah, baru bertanya. Lebih dulu share, baru cek fakta.
- Anonimitas melahirkan keberanian semu: Karena tidak tatap muka, empati ikut menghilang. Yang tertinggal hanya ego.
- Algoritma mengamplifikasi amarah: Konten yang memancing emosi lebih cepat viral daripada konten yang menenangkan. Dan kita, tanpa sadar, jadi bagian dari mesin itu.
Tanamkan Empati di Setiap Momen
Lalu apa solusinya? Bukan dengan mematikan internet. Bukan dengan melarang berkomentar.
Solusinya sederhana:
“Tanamkan Empati di Setiap Momen“.
Empati di sini bukan berarti lembek atau tidak boleh kritik. Empati adalah kemampuan menaruh diri kita di posisi orang lain sebelum mengetik.
Sebelum share berita: “Bagaimana jika ini terjadi pada keluarga saya?”
Sebelum komen pedas: “Apakah kata ini akan membangun atau melukai?”
Sebelum menyebar video: “Apakah saya sudah cek kebenarannya?”
Pers punya tanggung jawab profesi. Netizen punya tanggung jawab kemanusiaan. Dua-duanya sama penting. Jurnalisme yang baik butuh kecepatan dan akurasi. Netizen yang baik butuh kecepatan dan nurani.
Penutup
Bandung mengajari kita bahwa kota ini besar karena warganya saling menjaga. Mari kita bawa semangat itu ke dunia maya.
Ingat, jejak digital tidak bisa dihapus. Tapi bisa kita arahkan.
Jadikan jari kita bukan harimau yang menerkam, tapi tangan yang merangkul.
Karena di akhir hari, yang diingat orang bukan seberapa cepat kita posting.
Tapi seberapa manusiawi kita saat posting itu.
Tanamkan Empati. Di Setiap Momen. (Tim Media FNC).










